Sejarah

Thawalib muncul pertama kali pada wal abad 20 di Sumatera Barat. Kehadirannya merupakan respon lanjutan atas gerakan al-tajdid (pembaruan pemikiran Islam) di Mesir yang dimotori oleh Syekh Jamaluddin Al-Afgani, Syekh Muhammad Abduh dan Syekh Rasyid Ridha. Adapun benang merah dari gerakan al-tajdid Mesir dengan Sumatera Barat terletak pada kehadiran Syekh Ahmad Khatib (1852-1915). Syekh Ahmad Khatib adalah orang Sumatera Barat yang menjadi ulama dan imam masjid al-Haram Mekkah (Arab Saudi). Melalui dialah beberapa orang Indonesia, seperti Syekh Djamal Djambek, Syekh Abdullah Ahmad, Dr. Abdul Karim Amrullah, Syekh Daud Rasyidi, Syekh Ibrahim Musa Parabek, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, memperoleh pemahaman gerakan al-tajdid secara lebih intensif di kota Makkah pada saat mereka sedang menunaikan haji.

Sekembalinya mereka dengan menunaikan haji, ide-ide pembaruan Islam mulai dikembangkan di daerah asalnya masing-masing. Dan salah satu dari mereka Dr. Abdul Karim Amrullah (ayah dari Buya Hamka) mendirikan surau Jembatan Besi. Oleh sebab surau Jembatan Besi semakin menunjukkan perkembangannya, maka dibuatlah sistem pendidikan yang menerapkan nilai-nilai kemodern-an dan mengubah namanya menjadi perguruan Thawalib.

Lulusan Thawalib Sumatera Barat, antaranya; Buya Hamka, Dr. M. Natsir, Adam Malik, HIAL Datuk Nan Sati,  KH. Yunan Nasuition, H. Djamal Djamil, KH. Prof. Zainal Abidin Achmad, KH. Oemar Bakri Datuk Tan Besar, H. AA Husein, dan Prof. Dr. Sidi Ibrahim Buchori, SH, MSc. Mereka tinggal di Jakarta. Didorong semangat mencerdaskan umat Islam, para alumninya yang menetap di Jakarta bertekad menyebarkan gerakan pembaruan Islam, sehingga didirikanlah Thawaalib Jakarta.

Mengawali gerakannya, dibukalah program Kursus Dakwah Thawaalib pada tanggal 1 Februari – 20 Juli 1982, dengan jumlah peserta 32 orang. Oleh karena peserta kursus sangat mengharapkan pengetahuan yang lebih banyak lagi, maka pada bulan Oktober 1982 diubahlah bentuk pendidikan menjadi Akademi Dakwah dan Publisistik Thawaalib. Akademi tersebut di bawah pimpinan (direktur) Prof. KH. Zainal Abidin Ahmad hingga pada 26 April 1983 (beliau wafat).

Kepemimpinan dilanjutkan oleh KH. Oemar Bakri Datuk Tan Besar. Di bawah kepemimpinannya, keberadaan Akademi Dakwah dan Publisistik Thawaalib mendapat legalitas operasional. Dan untuk menandai pensahan legalitas tersebut, Akademi Dakwah dan Publisistik Thawaalib (program Diploma 3) diresmikan oleh Bapak H. Adam Malik (mantan Wakil Presiden RI) pada 19 Agustus 1983.

Oleh sebab animo mahasisa semakin kuat untuk mendapatkan jenjang pengetahuan yang lebih tinggi (program Sarjana / S1), maka pada tahun ajaran 1984/1985 diubahlah bentuk pendidikan menjadi Sekolah Tinggi Dakwah dan Publisistik Thawaalib (STDP), hingga kemudian mendapatkan status terdaftar berdasarkan SK Dirjen Binbagais Depag RI No.72/E/1987 tertanggal 1 September 1987. oleh sebab pada masa itu ilmu dakwah belum menjadi fakultas, tetapi masih bagian dari fakultas ilmu ushuluddin, maka sejak terbitnya SK dari Dirjen Banbagais nama “STDP” dengan sendirinya berubah menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin (STIU) Thawaalib, dan kepemimpinan saat itu telah beralih ke Prof. Drs. Anton Timur Djaelani, MA (KH. Oemar Bakri wafat 19 Mei 1985).

Sepuluh tahun kemudian, STIU Thawaalib berubah menjadi STAI Publisistik Thawalib, perubahan nama yang mengacu kepada peraturan SK Menteri Agama RI No.159/1985. dengan adanya peraturan baru tersebut memungkinkan Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (PTAIS) membuka lebih dari satu jurusan lintas fakultas, dan pada tahun 1997 STAI Publisistik Thawalib Jakarta membuka program studi baru yaitu Kependidikan Islam (Tarbiyah), yang sebelumnya hanya program studi Komunikasi Penyiaran Islam (Dakwah).